“Masih ada seribu bayangan dirimuDimana ku berpijak kau pun tiada jauh” Di sela aku mendengar lagu “Jauh” ia mendekat. Merengkuh tubuhku yang gemetar. Meraba ke dalam sesak dan pilu. Seolah berkata “Pergilah duka dari tubuhnya yang penuh biru”. Aku menantang langit, apakah ia sudi membasuh dan luruh? di setiap jengkal aku berpijak, di setiap rumahLanjutkanLanjutkan membaca “Jauh”
Arsip Kategori: puisi
Jauh Sebelum Kau Tahu
Aku sudah tidak menggambarmu pada langit-langit malam, sebab ia terlalu suntuk untuk mataku yang harus terlelap pukul sepuluh. Hatiku sudah tak lagi penuh jika kudengar namamu dalam obrolan sia-sia. Aku sudah mematahkan hatiku jauh sebelum kau menikamku dengan belatimu yang tajam. Jauh sebelum kau berteriak “Menyingkirlah!”. Aku tidak ingin setengah jatuh cinta hanya karena denganmuLanjutkanLanjutkan membaca “Jauh Sebelum Kau Tahu”
Sudah Tidak Kudapati Dering di Teleponku
https://pin.it/70fZIoGXC Aku menyapu bola mataku dengan penamu. Catnya terkelupas namun warnanya sebiru laut dan seluas jagat raya. Tulisannya tidak sempat kau habiskan, kertasnya koyak dan menguning, sebab ia juga terjamah waktu, pudar dan tak lagi nyala berani. Aku menghabiskan waktu seperti melahap remah-remah, seperti mengais kembali air mata yang tumpah di pusaramu. Aku menunggumu diLanjutkanLanjutkan membaca “Sudah Tidak Kudapati Dering di Teleponku”
Ucapan Sederhana
Kapan pertama kali ka pina sadar kalau kamu cantik banget? Bagiku yang banyak tidak tahu, aku mengenal banyak makanan enak dan tempat bagus melaluinya. Aku menamainya jelita. Banyak tombak dalam dirinya, banyak keras pada kepalanya, tapi ia baik. Apapun warnanya, bagiku setiap harinya ia memiliki banyak warna yang berbeda, kadang merah jambu, kadang hitam pekat.LanjutkanLanjutkan membaca “Ucapan Sederhana”
Meracik Kenangan
Puisi Untuk Ibu
Sebelum Matamu Jatuh Pada yang Lain
laut dan rahasia di dalamnya Aku meletakkannya lagi pada laut yang dalam, biru, dan penuh rahasia. Ingatanku tidak penuh ketika aku berusaha menerka kapan terakhir kali aku jatuh pada mata manusia lain. Aku beribu kali bertanya pada hujan deras di luar jendela, adakah seseorang yang kelak membuatku utuh dan tak lagi berduri, dan siapakah yangLanjutkanLanjutkan membaca “Sebelum Matamu Jatuh Pada yang Lain”
Jika Adik Ingin Menangis
Bagi kita yang tidak pandai bercerita, duka adalah segumpal malapetaka yang sering kita tutup rapat-rapat. Kita tidak berbagi tapi kerap mengasihi. Bagiku yang sudah sebesar ini, ragamu tetap kecil seperti pertama kali aku menggendongmu saat umurku 5 tahun. Genggamanmu masih sama seperti pertama kali kita bermain bersama, aku membawamu lari kecil di lapangan dan kitaLanjutkanLanjutkan membaca “Jika Adik Ingin Menangis”
Surat Untuk Ibu
Ibu, hari ini aku genap 22 tahun. Aku sedikit melupakannya, jika saja notifikasi whatsapp tidak ada. Bagiku hari ini hanya peringatan 1 tahun Ibu pergi. Bajuku basah, mataku sembab. Bukan sedih. hanya teringat masakan Ibu di hari ulang tahunku, pasti pilihannya ada dua, nasi kuning atau kue ulang tahun. Tapi, meski sudah kupilih salah satu,LanjutkanLanjutkan membaca “Surat Untuk Ibu”
Semoga Malam Ini Lebih Panjang
Di tepi ranjang sepi itu menanti, melepas pakaiannya pada derit-derit kayu. Malam ini ia tidak ingin bermimpi, wanita itu hanya ingin 5 jam nya terisi penuh dengan lelap, berharap esok matahari terbit lebih lama, menunggu matanya yang masih merah menyala benar-benar terbuka lebar sebab kantuknya lebih besar dari keinginannya untuk hidup. Jendela yang ia tutupiLanjutkanLanjutkan membaca “Semoga Malam Ini Lebih Panjang”
Pada Akhirnya Kita Akan Kembali
Kali ini aku benar-benar tidak menduga, temanku berpulang lebih dulu untuk menyusul ayahnya yang sudah berpulang sejak lama.Hari-hari yang ku lewati saat ini terasa tidak nyata, kenangan demi kenangan tersusun bak puzzle yang perlahan selesai dikerjakan. Kita memang baru saling mengenal sejak tahun 2023 silam, tapi bagiku ialah satu-satunya rekan kerjaku yang saat itu kuLanjutkanLanjutkan membaca “Pada Akhirnya Kita Akan Kembali”