selamat datang, selamat membaca dan berkelana, semoga berkenan di hati pembaca.
Ketika kita berkelana, kita dapat melihat dunia yang luas dengan berbagai cara, misalnya jalan-jalan ke berbagai negara, menulis, membaca berbagai buku, mendengarkan musik, bahkan mendengarkan orang bercerita. Kita selalu punya cara untuk melihat dunia yang luas, meski cuma menulis di meja, membaca buku di perpustakaan, atau sekedar menonton video traveler.
Kita tumbuh dengan hal-hal yang ada dalam diri kita, jadi lakukan segala sesuatu yang kalian cintai. Selamat berkelana.

- BAGIAN PERTAMAMungkin nanti barangkali setelah kau singgah sebentar disini, kau akan menjelma menjadi diriku. Atau mungkin setelah kau membaca tulisan abstrak ini, kau akan membenci dirimu sendiri. Tapi, jika nanti kauLanjutkan membaca “BAGIAN PERTAMA”
Membaca, mendengar, dan bercerita.
- BAGIAN PERTAMAMungkin nanti barangkali setelah kau singgah sebentar disini, kau akan menjelma menjadi diriku. Atau mungkin setelah kau membaca tulisan abstrak ini, kau akan membenci dirimu sendiri. Tapi, jika nanti kauLanjutkan membaca “BAGIAN PERTAMA”
- Luka yang Lupa Jalan PulangHijau yang ternyata bukan kuning, kudengar lagi bising yang membuatku pening, kehampaan yang tak kunjung mengering, dan hancur yang begitu hening. Tak ada mereka, yang datang hanya sekedar menerka luka,Lanjutkan membaca “Luka yang Lupa Jalan Pulang”
- Kembali DatangSelamat pagi kek! Tuhan hebat sekali ya kek, baru kemarin rasa bahagia itu datang, dan sekarang aku harus kembali dihadapkan dengan sedih karena kehilangan. Kehilangan yang benar-benar hilang, kehilangan pahlawanLanjutkan membaca “Kembali Datang”
- Terarahluka yang kupintal, ku buat menyerupai benang yang asal Hingga seumpama ada yang bertanya, dimana luka? Aku bisa menjawabnya, dia di mana-mana tapi tak akan mampu kau baca. Sampai nantiLanjutkan membaca “Terarah”
- Bahagia yaLama ya tak menyapa, semoga yang membaca sehat-sehat selalu ya! Musim hujan di bulan November, ketukan sepasang sepatu meninggalkan jejak di tanah yang basah Aku melihat beberapa pasang manusia menundukanLanjutkan membaca “Bahagia ya”
- Tempat untuk PulangAku pulang Tapi lupa tidak membeli buah tangan, hanya membawa lelah yang dibungkus senyuman Aku datang Dengan raut wajah yang masih sama, hanya saja mungkin mataku sedikit terlihat keruh danLanjutkan membaca “Tempat untuk Pulang”
- Sang Pemilik KeduanyaPerihal cinta, aku sudah lupa Jika kau bertanya, “Siapa yang kau suka?”, kemungkinan besar aku tak punya jawabannya. Tapi jika kau bertanya, “Orang seperti apa yang bisa membuatmu jatuh cinta?”,Lanjutkan membaca “Sang Pemilik Keduanya”
- Berdansa di tengah PestaTuan, izinkan aku menduga, kemarin kau yang membawa secarik kertas betuliskan puisi sederhana itu bukan? Lalu kau juga yang membawa gelas berisikan anggur merah ke meja tempatku berdansa dengan seseorangLanjutkan membaca “Berdansa di tengah Pesta”
- Selamat Kembali Menua Ibu
- ‘Sibuk’ di Kepala SendiriPelukku hilang sebab aku lupa mengaisnya kala hendak pulang Aku hanya tergesa, berusaha untuk tetap berjalan di atas lelah dan bentuk sial lainnya Mataku tak sejernih kala aku pertama kaliLanjutkan membaca “‘Sibuk’ di Kepala Sendiri”
- #Sajak hujanAku si hujan yang tak pernah reda Jatuh berderai dipelukan angin yang mengarah ke barat daya Lalu menetes melalui pipa-pipa rumah yang berpagar merah Mengalir ke hilir hingga ke persimpanganLanjutkan membaca “#Sajak hujan”
- Bincang yang PekatSelembar kertas ku tulis Berisi tinta merah dan tumpahan air mata yang menangis Katamu pekat adalah malam yang tak ada bintang Yang gelap dan gulita Seperti suara jangkrik yang menggemaLanjutkan membaca “Bincang yang Pekat”
- Rindu yang TersisaBila dermaga dan perahu adalah titik temu Maka kan kubawa perihal rindu yang telah mati Yang ku kubur di pemakaman bernama sepi, sehingga ketika aku mampir untuk berdoa, dia masihLanjutkan membaca “Rindu yang Tersisa”
- Seperti Anginkisah ‘aku ingin menjadi angin’ Dia menangis, di ujung lembah keabadian, tempat burung hantu bertengger manis dengan mata terlelap Dibangunkannya serangga yang berjejer rapih di atas tembok yang basah MenerkaLanjutkan membaca “Seperti Angin”
- Kembali LagiDi tulis di malam sabtu, untuk si pemilik senyum yang begitu candu. Kembali berdebar, di tengah ombak malam aku bersandar, berjingkrak seolah menemukan bintang paling terang di langit malam yangLanjutkan membaca “Kembali Lagi”
- Sebatas PernahSembari ku tulis tentangmu, aku kembali mengingat kertas-ketas putih yang ku taruh di kolong meja, kertas- kertas yang isinya catatan pelajaran dan di bawahnya terselip namamu, catatan yang menjadi buktiLanjutkan membaca “Sebatas Pernah”
- Perasaan-perasaan BrengsekDiam. Otakku dipaksa berhenti mencerna, dipaksa berpura-pura menjadi bodoh belakangan ini. Persetan apa kata mereka, aku juga punya hati. Kau tahu apa fungsi utama hati? Ya benar, menyakiti. Sialan memang.Lanjutkan membaca “Perasaan-perasaan Brengsek”
- Goresan Tinta Ibu, Menyisir Budaya yang Hampir MatiDi dalam jemari ibu, barangkali kau menemukan yang suci dari banyaknya paras indah menawan Seperti sisaan-sisaan tinta merah-hijau yang menari, dan goresan pena di wajah ibu, kau bisa temukan kecantikanLanjutkan membaca “Goresan Tinta Ibu, Menyisir Budaya yang Hampir Mati”
- Hingga Perasaan Ini SelesaiMeramu racun di bibirmu; dalam diam tanganku mendapati tanganmu menggenggam erat jemari wanita itu, wanita berambut sebahu yang memakai kemeja bercorak bunga keunguan. Kau mengapit wajahnya dengan kedua bola matamuLanjutkan membaca “Hingga Perasaan Ini Selesai”
- Seumpama Aku MenjadiSeumpama aku menjadi hiruk pikuk ketiadaan, mungkin muak tak akan jadi alasanku untuk menyerah- bahkan sampai memaki kehidupan Seumpama aku menjadi riuh rendah klakson di jalanan, mungkin ramai di kepalaLanjutkan membaca “Seumpama Aku Menjadi”
- Tips-tips Untuk Kamu yang Mau Memulai Menulis PuisiAku mau sedikit share tips-tips menulis versi aku, jadi tulisan ini berdasarkan pengalaman aku sendiri, ya. Disini aku akan membagi langkah-langkah menulis puisi dalam empat poin, tentunya poin ini termasukLanjutkan membaca “Tips-tips Untuk Kamu yang Mau Memulai Menulis Puisi”
- Tubuh yang KutahuMenari. Kita berjingkrak dari satu ruangan ke ruangan lain, menarik kaki kita masing-masing. Dengan tanganmu yang penuh lebam, aku terpingkal, berusaha menyingkirkan suasana mencekam dari tubuhmu. Kau tertawa, tawa yangLanjutkan membaca “Tubuh yang Kutahu”
- Malam-malam Kitamalam-malam tak pernah tidur, ia selalu saja merangkak memeluk siapa saja yang tak berhasil kala pagi. gelap malam tak pernah menjadi sunyi sungguhan, ia hanya sedikit meredam supaya kepala kitaLanjutkan membaca “Malam-malam Kita”
- Gegabahwajah usangmu selalu mendahului raut penasaran, seperti risau dan khawatir. kau menyumpal mulut besarmu, karena kau pikir bukan naik motor saja yang perlu hati-hati, tetapi bicara juga. kita adalah duaLanjutkan membaca “Gegabah”
- Mencintaimu Selalu Menyakitkankatakanlah, ada yang memacariku diam-diam, sambil berbisik ia merangkulku menuju tempatmu, yang hamparannya hanya rumput-rumput yang tandus. lalu ia memejamkan matanya, memukul-mukul kepalanya, katanya sudah. ia sudah membuangku dari kepalanya,Lanjutkan membaca “Mencintaimu Selalu Menyakitkan”
- Merayakanmerayakan patah hati. lagi. biarlah malam ini menjadi wasiat untuk kita yang tak pernah mahir dalam menyembunyikan apa-apa saat terluka. seperti ego dan jenis-jenis malapetaka lainnya. aku selalu ingin melupakanLanjutkan membaca “Merayakan”
- 40 hari setelah ibu pergihidup setelah tidak ada ibu inspirasikata aku baru memiliki keberanian menulis lagi, setelah sekian lama tenggelam dalam kesibukan yang kubuat-buat, hingga aku lupa pernah merancang cerita yang pernah kusumbar-sumbar yangLanjutkan membaca “40 hari setelah ibu pergi”
- Jalan Ini Terlalu JauhAku seperti sedang menyulam benang, kusut dan tak beratur. Kain-kain yang basah dan koyak, perlahan seperti kita yang tidak punya sesiapa, berdebu dan tak terjamah. Lenganku menjahit baju dan celanaLanjutkan membaca “Jalan Ini Terlalu Jauh”
- Bagaimana Hidup Berjalan Semestinya?aku selalu ingin menaruh kebebasan dalam setiap hal yang kurasa tepat, melewati garis yang sudah kugarisi sejak pertama kali aku mencoba melangkah, membuat beberapa catatan yang kerap ku tinggal diLanjutkan membaca “Bagaimana Hidup Berjalan Semestinya?”
- Sudah Tidak Ada Tangis Di makam IbuTulisan ini untuk mengenang Ibu setiap hari. Tiada yang pernah sembuh dalam menghadapi kehilangan. Begitu pun dengan kita yang tidak pernah mahir dalam hidup. Mungkin saja bila esok aku lebihLanjutkan membaca “Sudah Tidak Ada Tangis Di makam Ibu”
- Pada Akhirnya Kita Akan KembaliKali ini aku benar-benar tidak menduga, temanku berpulang lebih dulu untuk menyusul ayahnya yang sudah berpulang sejak lama. Hari-hari yang ku lewati saat ini terasa tidak nyata, kenangan demi kenanganLanjutkan membaca “Pada Akhirnya Kita Akan Kembali”
- Semoga Malam Ini Lebih PanjangDi tepi ranjang sepi itu menanti, melepas pakaiannya pada derit-derit kayu. Malam ini ia tidak ingin bermimpi, wanita itu hanya ingin 5 jam nya terisi penuh dengan lelap, berharap esokLanjutkan membaca “Semoga Malam Ini Lebih Panjang”
- Surat Untuk IbuIbu, hari ini aku genap 22 tahun. Aku sedikit melupakannya, jika saja notifikasi whatsapp tidak ada. Bagiku hari ini hanya peringatan 1 tahun Ibu pergi. Bajuku basah, mataku sembab. BukanLanjutkan membaca “Surat Untuk Ibu”
- Jika Adik Ingin MenangisBagi kita yang tidak pandai bercerita, duka adalah segumpal malapetaka yang sering kita tutup rapat-rapat. Kita tidak berbagi tapi kerap mengasihi. Bagiku yang sudah sebesar ini, ragamu tetap kecil sepertiLanjutkan membaca “Jika Adik Ingin Menangis”
- Sebelum Matamu Jatuh Pada yang LainAku meletakkannya lagi pada laut yang dalam, biru, dan penuh rahasia. Ingatanku tidak penuh ketika aku berusaha menerka kapan terakhir kali aku jatuh pada mata manusia lain. Aku beribu kaliLanjutkan membaca “Sebelum Matamu Jatuh Pada yang Lain”
- Meracik KenanganPuisi Untuk Ibu
- Ucapan SederhanaKapan pertama kali ka pina sadar kalau kamu cantik banget? Bagiku yang banyak tidak tahu, aku mengenal banyak makanan enak dan tempat bagus melaluinya. Aku menamainya jelita. Banyak tombak dalamLanjutkan membaca “Ucapan Sederhana”
- Sudah Tidak Kudapati Dering di TeleponkuAku menyapu bola mataku dengan penamu. Catnya terkelupas namun warnanya sebiru laut dan seluas jagat raya. Tulisannya tidak sempat kau habiskan, kertasnya koyak dan menguning, sebab ia juga terjamah waktu,Lanjutkan membaca “Sudah Tidak Kudapati Dering di Teleponku”
- Jauh Sebelum Kau TahuAku sudah tidak menggambarmu pada langit-langit malam, sebab ia terlalu suntuk untuk mataku yang harus terlelap pukul sepuluh. Hatiku sudah tak lagi penuh jika kudengar namamu dalam obrolan sia-sia. AkuLanjutkan membaca “Jauh Sebelum Kau Tahu”
- Jauh“Masih ada seribu bayangan dirimuDimana ku berpijak kau pun tiada jauh” Di sela aku mendengar lagu “Jauh” ia mendekat. Merengkuh tubuhku yang gemetar. Meraba ke dalam sesak dan pilu. SeolahLanjutkan membaca “Jauh”


Poetry
#1
aku menghancurkan duri-duri di seluruh tubuhmu.
lalu kau menjerit, kesakitan yang girang, di sela suaramu yang meloncat-loncat, aku menangis.
kupikir jiwa nestapa itu telah kau akhiri, nyatanya kau selalu mendekapnya erat, selalu kau kantongi di dalam saku bajumu.
lalu kita menari, memikul sisa-sisa durjana itu bersama. aku tak pernah melepas romansa dalam tubuhmu, kau hanya perlu sedikit mendekat supaya kau tahu, wajah mana yang benar-benar menginginkanmu.
#2
kepalaku bersandar pada tempat dimana aku menaruh amarah, yang gelap dan lebih besar dari diriku sendiri.
bersembunyi dengan dendam yang selalu kumaki saat aku mencicipi sarapan di pagi hari, tanganku tak pernah kubiarkan kosong, jika keduanya datang akan kuhadapi meski pada akhirnya aku yang mati.
amarah datang sebagaimana bentuk terburuk dari hari-hari yang tak berjalan dengan baik, yang bersarang jauh dalam hati.
aku tak pernah tamat dalam menghadapi amarah, ia selalu datang dengan wajah yang berbeda, terkadang sayu terkadang beringas. aku hanya bisa memeluknya erat-erat, supaya ia mereda dan tak menjadi-jadi.
#3
wajah ibu selalu sama. matanya tetap jadi sinar paling terang sejagat raya, tempat dimana teduh yang selalu kudapatkan. seperti kemarin-kemarin wajah baik dan lembutnya selalu sama, tempat dimana aku menaruh luka untuk dipeluk bersama.
bagiku dunia ini selalu tentang ibu. berpelukan, bermesraan, bersuka cita, lalu menakar bahagia bersama.
kadang hari-hariku sedikit kata atau bahkan tidak ada, tapi dengan ibu aku menjadi manusia dengan perasaan penuh bak diberi kebahagiaan berlipat ganda. akan terus kupeluk dunia bersama ibu. selamat hari ibu. selalu.

Terima kasih telah singgah, jangkau saya lebih jauh untuk mendapatkan inspirasi pada tulisan anda.
Subscribe to
Our Newsletter
Get our latest post and content delivered directly to your inbox.